Selasa, 09 Oktober 2012

Pembuatan Tempe


Proses Pembuatan Tempe
Pada dasarnya, cara membuat tempe terdiri dari 2 bagian besar, yaitu proses pemasakan kedelai dan dilanjutkan dengan proses fermentasi.

Berikut ini adalah langkah-langkah proses pembuatan tempe:

# 1. Agar benar-benar mendapatkan biji kedelai yang bagus, lakukan penyortiran. Caranya, tempatkan biji kedelai pada tampah, kemudian ditampi.

http://img.carapedia.com/images/article/tempe1.jpg


# 2. Cuci biji kedelai dengan air yang mengalir

# 3. Masukkan biji kedelai ke dalam panci berisi air, kemudian rebus selama 30 menit atau sampai mendekati setengah matang.

# 4. Rendam kedelai yang sudah direbus selama semalam hingga menghasilkan kondisi asam

# 5. Keesokan harinya, kupas kulit arinya. Caranya masukkan kedelai ke dalam air, kemudian remas - remas sembari dikuliti hingga akhirnya didapatkan keping - keping kedelai

# 6. Cuci keping kedelai sekali lagi dengan cara yang sama seperti mencuci beras yang hendak ditanak

# 7. Masukkan keping kedelai ke dalam dandang lalu ditanak, mirip seperti menanak nasi

# 8. Setelah matang, angkat, lalu hamparkan tipis-tipis diatas tampah. Tunggu sampai dingin, airnya menetes habis, dan keping kedelai mengering

http://female.store.co.id/images/Image/images/tempe2.jpg


# 9. Tambahkan ragi. Untuk 1 kg kedelai bisa menggunakan sekitar 1 gr ragi. Campurkan pada kedelai sambil diaduk hingga merata benar. Lalu angin-anginkan sebentar

http://female.store.co.id/images/Image/images/tempe3.jpg

# 10. Bungkus kedelai yang sudah bercampur rata dengan ragi menggunakan daun pisang atau plastik

# 11. Peram bungkusan kedelai. Bila pembungkusnya berupa pkastik, pemeraman dilakukan diatas kajang-kajang bambu yang diletakkan pada rak-rak. Akan tetapi bila pembungkusnya berupa daun, pemeraman dilakukan di dalam keranjang bambu yang ditutup karung goni

# 12. Sesudah diperam semalaman, dilakukan penusukan dengan lidi. Tujuannya agar udara segar dapat masuk ke dalam bahan tempe

# 13. Peram lagi semalaman, keesokan harinya tempe yang telah kita buat telah jadi dan siap dikonsumsi

http://female.store.co.id/images/Image/images/tempe4.jpg


 
Rumah Tempe Indonesia untuk Tempe yang Higienis
Penulis : Ester Meryana | Selasa, 5 Juni 2012 | 12:05 WIB
http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/icon_dibaca.gif
Dibaca: 1861
http://stat.k.kidsklik.com/data/2k10/kompascom2011/images/icon_komentar.gif
|
http://assets.kompas.com/data/2k10/kompascom2011/images/ico_email001.gif
http://assets.kompas.com/data/2k10/kompascom2011/images/icon_twit_a.jpg
http://assets.kompas.com/data/2k10/kompascom2011/images/icon_fb_a.jpg
Share:
http://assets.kompas.com/data/photo/2011/09/24/1050399620X310.jpgKOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN Tempe
TERKAIT:
JAKARTA, KOMPAS.com - Industri tempe sebenarnya cukup berkontribusi besar bagi perekonomian Indonesia. Tapi produksinya masih ada yang kurang higienis dan ramah lingkungan. Oleh sebab itu, Rumah Tempe Indonesia dibentuk sebagai upaya mewujudkan produksi tempe yang baik.
"Industri tempe di Indonesia merupakan industri yang dirajai oleh produsen kecil dan menengah yang jumlahnya sangat besar. Kontribusinya terhadap perekonomian kita, yakni sebesar kurang lebih Rp 700 miliar per tahun tidak dapat dipandang sebelah mata," sebut Tina ETV Napitupulu, Documentation Officer SCoPe Indonesia Program, dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (5/6/2012).
Kontribusi ekonomi yang besar dari tempe juga didukung oleh faktor budaya. Tempe merupakan bagian dari budaya pangan Indonesia. Tapi, kata Tina, hanya sedikit perhatian yang diberikan terhadap kondisi industri tempe selama ini. Produksi tempe sekarang ini masih belum baik.
Ia menggambarkan kondisi pembuatan tempe dengan tempat produksi yang penuh asap. Asap itu menjadh gangguan bagi pekerja karena bisa memedihkan mata. Bahkan asap membuat ruang produksi menjadi pengap dan panas. Proses pengolahannya juga mengkhawatirkan. Salah satu contohnya dalam hal perebusan, ada pelaku usaha menggunakan drum bekas oli. Ini berbahaya karena meskipun sudah dibersihkan namun rentan terhadap karat.
"Kondisi memprihatinkan ini mendorong Koperasi Pengrajin Tempe Tahu Indonesia (KOPTI) Kabupaten Bogor, Mercy Corps dan Forum Tempe Indonesia untuk berinisiatif mendirikan Rumah Tempe Indonesia," tambah dia.
Pembentukan Rumah Tempe Indonesia didukung juga oleh Kedutaan Uni Eropa, PT FKS Multiagro, PT ANTAM dan American Soybean Association International Marketing (ASA IM). Rumah ini sudah dibangun dan akan diresmikan pada 6 Juni 2012.
Di tempat ini, tempe diolah menggunakan peralatan stainless steel yang berstandar food grade. Bahan bakar yang dipakai juga bukan kayu bakar yang melepaskan karbon dengan jumlah besar ke udara, melainkan memakai gas elpiji yang lebih rendah emisi.
Selain itu, para pekerjanya juga telah mendapatkan beberapa kali pelatihan GHP (Good Hygiene Practice) terkait tempe dan pengolahan yang lebih higienis. Kemajuan-kemajuan inilah yang akan dijadikan patokan bagi industri tempe Indonesia di masa mendatang.
Selain memproduksi tempe yang higienis dan ramah lingkungan, Rumah Tempe Indonesia juga akan menjadi pusat belajar bagi perajin tempe yang lain, sehingga memungkinkan percepatan adopsi dan replikasi teknologi dan menjadikan industri tempe di Indonesia berdaya saing internasional.
Editor :
Erlangga Djumena

NDUSTRI TEMPE Desak Pemerintah Intervensi Harga Kedelai

Rabu, 25 Juli 2012 | 02:35 WIB
  •  
  •  
  •  
Compact_tempe

JAKARTA: Himpunan Pengusaha dan Perajin Tahun dan Tempe Indonesia (Hipertindo) mengharapkan pemerintah intervensi terhadap kenaikan harga kedelai impor yang sangat membebani perajin tahu dan tempe.

Ketua Hipertindo Johanda Fadil mengharapkan pemerintah dalam jangka pendek memberikan subsidi harga kepada perajin tahu dan tempe. Menurutnya, harga kedelai saat ini mencapai Rp8.100 per kg, sedangkan harga yang normal di tingkat perajin Rp5.500-Rp6.500 per kg.

“Kami mengharapkan ada intervensi dari pemerintah. Kami [perajin tahu dan tempe] sangat terbebani dengan kenaikan harga kedelai, para perajin tempe terancam bangkrut,” ujarnya kepada Bisnis Selasa (24/7/2012). 

Dia menjelaskan dalam jangka pendek pemerintah harus menindak spekulan yang mengambil untung di balik kenaikan harga kedelain. Pemerintah, katanya, juga harus mendorong adanya sinergi diantara importir kedelai.

Importasi kedelai disinyalir hanya dikuasai oleh beberapa pemodal. Saat ini, hanya ada sekitar 8 importir kedelai skala besar, sedangkan importir kedelai lainnya dalam volume kecil.

Menurutnya, harga kedelai pada Juli 2011 sampai dengan awal 2012 Rp5.500 per kg. Namun, sejak awal tahun ini harga kedelai naik sampai enam kali.

Harga kedelai pada Januari tahun ini mencapai Rp5.700 per kg naik menjadi Rp5.900 per kg pada bulan berikutnya. Harga kedelai pada Maret 2012 naik menjadi Rp6.300 per kg, naik lagi pada April menjadi Rp6.700 per kg. 

Harga kedelai terus naik menjadi Rp7.000 per kg pada Mei, kemudian turun menjadi Rp6.500 per kg pada bulan lalu. Namun, sejak awal bulan ini, harga kedelai naik menjadi Rp8.100 per kg.

Dia mengancam jika tidak ada intervensi dari pemerintah, maka perajin tahu dan tempe akan mogok produksi dan turun ke jalan untuk menuntut harga kembali normal.

Johanda menuturkan perajin tahu dan tempe tidak dapat menaikkan harga, karena pembeli akan enggan membeli tahu dan tempe. Di sisi lain, jika perajin tidak menaikkan harga jual tahu dan tempe, maka mereka akan bangkrut.

Perajin yang akan bangkrut dalam waktu cepat, katanya, yaitu perajin skala kecil yang akan kalah dengan perajin besar. Perajin kecil, lanjutnya, menggunakan kedelai sekitar 4-5 kuintal per hari, sedangkan perajin besar membeli kedelai sampai 10 ton per hari.

Dia menambahkan harga di luar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) tentu akan lebih mahal, karena biaya transportasi juga lebih mahal.

Menurutnya, para importir skala besar dimiliki oleh salah satu pemodal yang dapat dengan mudah mempermainkan harga. Di sisi lain, katanya, beberapa pihak menilai kenaikan harga kedelai disebabkan menurunya produksi di AS. “Ini justru mendukung importir atas kenaikan harga kedelai ini.”

Beberapa pihak mengharapkan Bulog ikut kembali bermain di kedelai. Namun, Bulog khawatir kalah bersaig dengan pedagang.

Produksi kedelai di dalam negeri sekitar 780.000 ton, sedangkan kebutuhan mencapai 2,2 juta ton per tahun, sehingga harus impor sekitar 1,4 juta ton setiap tahun. (sut)

Manfaatkan Limbah Pabrik Tahu Tempe Untuk Biogas

Pertumbuhan pabrik di Indonesia sangat pesat selain berdampak positif untuk ekonomi negeri ini namun tidak demikian untuk lingkungan, salah satunya pabrik tahu tempe. tidak sedikit limbah yang di hasilkan industri rumahan ini.
limbah pabrik tahu tempe ini mengalir ke sungai dan dapat membuat kerusakan lingkungan yang berakibat fatal, namun ada beberapa langkah untuk menghindari kerusakan lingkungan tersebut dan malah mampu menghasilkan keuntungan yag lebih.
Sebuah perusahaan tahu tempe di wilayah Bakunase, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur diinstruksikan untuk segera membangun biogas untuk mencegah kerusakan lingkungan akibat limbah industri tersebut.
“Masyarakat sudah resah dengan limbah industri tersebut, sehingga perusahaan itu sudah menyetujui untuk membangun biogas guna mencegah limbah yang merusak lingkungan,” kata Lurah Bakunase Bustamil ketika dihubungi, Senin.
Ia menjelaskan di Kelurahan Bakunase tercatat 31 perusahaan tahu tempe yang setiap hari mengonsumsi sebanyak 5.000 hingga 6.000 liter air per perusahaan.
“Satu perusahaan per hari menghasilkan sedikitnya 3.000 liter limbah tahu dan tempe yang selama ini dibuang seenaknya sehingga menimbulkan aroma tak sedap bagi masyarakat di sekitarnya,” kata Bustamil.
Akibat limbah yang dibuang tidak beraturan itu, kata dia, hampir setiap hari masyarakat Bakunase membuat pengaduan karena merasa terganggu dengan limbah yang berbau tak sedap itu.
Ia mengatakan derasnya arus protes warga dan untuk menghindari konflik maka pihaknya memfasilitasi untuk melakukan pertemuan antara masyarakat dan para pemilik perusahaan tahu dan tempe.
“Pertemuan sudah dilakukan dan disepakati agar pengusaha tahu tempe tidak membuang limbah disembarang tempat tetapi menyiapkan wadah khusus untuk menampung limbah untuk selanjutnya dapat dijadikan biogas,” jelasnya.

Pengolahan Air Limbah Industri Tempe Menggunakan AHBR (AnaerobicHorizontal Baffle Reaktor ) Dengan Variasi Waktu Tinggal Dan Penggunaan Bak Pengendap (Studi Kasus Sentra Industri Tempe Kelurahan Krobokan Kecamatan Semarang Barat).

Kategori
:
Buku
Lokasi
:
Perpustakaan PS Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Telp. 024-76480678
Pengarang
:
SRI RAHMIATI R., NIM. L2J002742
Tahun Terbit
:
2008
Penerbit
:
Semarang, Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, 2008.
Klasifikasi
:

Kata Kunci
:
Anaerobic Horizontal Baffel Reaktor,BOD, COD, TSS
Abstrak
:
AHBR merupakan salah satu teknologi alternatif dalam pengolahan air limbah secara biologi dengna reaktor anaerob. AHBR adalah sebuah reaktor anaerob bersekat berbentuk persegi panjang, mirip dengan tanki septik, dibagi dalam 5 sampai 6 kompartemen berukuran sama dan terdapat lumpur di dalamnya. Reaktor ini memanfaatkan aktivitas mikroorganisme dalam lumpur untuk mengolah air limbah. Reaktor ini dapat digunakan untuk menurunkan parameter BOD, COD dan TSS dalam air limbah domestik ataupun air limbah industri. Dalam penelitian ini sekat yang digunakan dalam reaktor berjumlah 5 buah sekat  dan tinggi lumpur yang digunakan adalah 1/3 tinggi reaktor . waktu tinggal digunakan sebagai variable  bebas dan COD, BOD, dan TSS digunakan sebagai variable terikat. Efisiensi tertinggi pada penyisihan COD terjadi pada reaktor yang menggunakan bak pengendap pada waktu tinggal 15 hari sebesar 84, 95%, pada penyisihan BOD terjadi pada reaktor yang menggunakan bak pengendap pada waktu tinggal 15 hari sebesar 83, 96%, pada penyisihan TSS terjadi pada reaktor yang menggunakan bak pengendap pada waktu tinggal 15 hari sebesar 84, 96 %.


2.2. Proses Pembuatan Tempe
Tempe merupakan hasil fermentasi kedelai, dan secara garis besar urutan proses pembuatan tempe adalan sebagai berikut :
  • Kedelai dimasak, setelah masak kedelai direndam 1 malam hingga lunak dan terasa berlendir, kemudian kedelai dicuci hingga bersih.
  • Kedelai dipecah dengan mesin pemecah, hingga kedelai terbelah dua dan kulit kedelai terpisah.
  • Kulit kedelai dipisahkan dengan cara hasil pemecahan kedelai dimasukkan ke dalam air, sehingga kulit kedelai mengambang dan dapat dipisahkan.
  • Kedelai kupas dicuci kembali hingga bersih, kemudian peragian dengan cara kedelai dicampurkan ragi yang telah dilarutkan dan didiamkan selama lebih kurang 10 menit.
  • Kedelai yang telah mengandung ragi ditiriskan hingga hampir kering, kemudian dibungkus dengan daun pisang. Setelah fermentasi selama 2 hari diperoleh tempe.

http://www.kelair.bppt.go.id/Sitpa/Artikel/Limbahtt/limtt03.gif

Gambar 3 : Bagan proses pembuatan tempe

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar